Di luar playlist algoritma, festival raksasa, dan lagu yang diputar 40 kali sehari di radio, ada dunia musik Indonesia yang jauh lebih aneh, berisik, dan menarik.
Ada sesuatu yang lucu dari istilah “musik underground”.
Karena di Indonesia hari ini, hampir semua orang punya akses ke internet.
Seorang anak SMA di Malang bisa merekam lagu di kamar tidur, mengunggahnya ke Spotify, membuat video TikTok, mendapatkan pendengar dari Filipina, lalu memainkan lagunya di Jakarta beberapa bulan kemudian.
Tidak perlu label besar.
Tidak perlu studio mahal.
Tidak perlu menunggu seseorang dari industri musik mengatakan bahwa musiknya layak didengar.
Yang dibutuhkan kadang cuma laptop, mikrofon, koneksi internet, beberapa teman, dan tingkat kepercayaan diri yang sedikit tidak masuk akal.
Jadi, sebenarnya di mana letak “bawah tanah” itu?
Musik Indonesia Tidak Pernah Benar-Benar Satu Dunia
Kalau kita melihat industri musik Indonesia dari kejauhan, semuanya terlihat cukup sederhana.
Ada penyanyi pop.
Ada band besar.
Ada festival dengan puluhan ribu penonton.
Ada lagu yang masuk playlist populer.
Ada artis yang muncul di televisi, TikTok, Instagram, dan billboard sekaligus.
Tapi mendekat sedikit saja, gambarannya mulai berantakan.
Ada band hardcore yang merekam album sendiri.
Ada produser elektronik yang membuat musik di kamar kos.
Ada rapper yang mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa daerah.
Ada musisi noise yang bisa membuat suara dari benda-benda yang bahkan tidak terlihat seperti alat musik.
Ada kolektif yang mengadakan pertunjukan di ruang seni kecil.
Ada label yang dibangun karena beberapa orang ingin merilis musik teman-temannya.
Dan ada musisi yang mungkin tidak pernah punya niat menjadi terkenal sama sekali.
Mereka hanya ingin membuat sesuatu yang terdengar seperti mereka.
Penelitian mengenai musik indie Indonesia bahkan menunjukkan bahwa para musisi independen tidak hanya berhadapan dengan label besar, tetapi juga mengkritisi sistem baru yang dibentuk oleh streaming, agregator digital, industri, hak cipta, dan cara musik dikonsumsi hari ini.
Dengan kata lain, masalahnya bukan lagi sekadar:
“Bagaimana kami bisa masuk industri?”
Pertanyaannya berubah menjadi:
“Kenapa kami harus masuk?”
Anak-Anak yang Tidak Menunggu Diundang
Selama bertahun-tahun, jalur karier musisi terlihat seperti tangga.
Buat band.
Main di tempat kecil.
Dapat perhatian.
Dapat manajer.
Dapat label.
Rekam album.
Masuk radio.
Masuk televisi.
Jadi terkenal.
Model tersebut masih ada.
Tapi sekarang ada tangga lain.
Atau mungkin lebih tepat disebut jalan tikus.
Seorang musisi bisa merekam sendiri, mendistribusikan sendiri, membuat artwork sendiri, mengatur konser sendiri, menjual merchandise sendiri, dan membangun komunitas sendiri.
Bahkan label independen tidak selalu berarti kantor dengan beberapa orang duduk di balik meja.
Salah satu contoh menarik datang dari Medan. Ringo Records bermula sekitar masa pandemi ketika musisi Ariffatur tidak bisa tampil secara langsung dan mulai memproduksi musik sendiri bersama Tengku Ariy dari Yoko City Ghost. Modal awalnya bahkan kurang dari Rp2 juta, menggunakan audio interface dan mikrofon bekas serta sebuah kamar sebagai ruang produksi.
Tidak ada gedung.
Tidak ada mesin industri.
Hanya beberapa orang yang berpikir:
Ya sudah. Kita bikin sendiri.
Dan mungkin itulah inti dari musik independen.
Bukan tidak punya uang.
Bukan tidak punya penonton.
Bukan bahkan tidak ingin terkenal.
Tetapi tidak mau menunggu izin.
Ada Kota-Kota yang Punya Suara Sendiri
Salah satu hal paling menarik tentang musik Indonesia adalah bahwa Jakarta bukan pusat dari segala sesuatu.
Setidaknya tidak lagi.
Bandung punya sejarah panjang dengan punk, hardcore, rock, dan komunitas kreatifnya sendiri.
Yogyakarta punya ekosistem yang sangat kuat untuk musik eksperimental, noise, seni dan kolektif DIY.
Malang punya scene yang terus melahirkan band-band baru.
Surabaya memiliki sejarah panjang musik keras dan komunitas independen.
Medan punya musisi dan label yang berkembang dengan ekosistemnya sendiri.
Dan di luar Jawa, semakin banyak jaringan yang terbentuk.
Studi mengenai scene noise Indonesia menemukan bahwa jaringan musik eksperimental kini tidak hanya berada di Jawa, tetapi juga terhubung dengan komunitas di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Batam dan wilayah lainnya. Hubungan itu dibangun melalui tur, rilisan bersama, festival, label, venue, pembuat instrumen, bahkan sekadar grup WhatsApp.
Ini mungkin terdengar kecil.
Tapi sebenarnya tidak.
Karena sebuah scene musik tidak dibangun oleh streaming.
Ia dibangun oleh manusia.
Orang yang meminjamkan amplifier.
Orang yang membuat poster.
Orang yang menyediakan ruang.
Orang yang membawa band dari kota lain.
Orang yang membuat kaset.
Orang yang membeli rilisan teman.
Orang yang menonton pertunjukan meskipun bandnya belum pernah mereka dengar.
Pada akhirnya, scene adalah sekumpulan orang yang cukup peduli untuk terus muncul.
Noise Adalah Contoh yang Paling Ekstrem
Kalau ingin memahami betapa luasnya dunia musik di luar arus utama, masuklah ke dunia noise.
Sekilas, noise terdengar seperti sesuatu yang seharusnya membuat orang meninggalkan ruangan.
Tidak ada melodi yang mudah dinyanyikan.
Tidak ada chorus yang bisa diteriakkan bersama.
Kadang bahkan sulit mengetahui kapan lagunya dimulai dan kapan selesai.
Tapi justru di situlah menariknya.
Noise tidak terlalu peduli dengan aturan tentang seperti apa musik seharusnya terdengar.
Indonesia memiliki scene noise yang cukup kuat hingga menarik perhatian internasional. Jogja Noise Bombing Festival, misalnya, telah menjadi salah satu titik penting bagi komunitas noise, sementara jaringan scene-nya berkembang melalui hubungan antar-musisi, label, festival, tur dan komunitas di berbagai wilayah.
Ini bukan musik yang dibuat untuk semua orang.
Dan mungkin memang tidak seharusnya.
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang musik adalah anggapan bahwa semakin banyak orang yang menyukainya, semakin baik musik tersebut.
Padahal musik juga bisa berfungsi sebagai eksperimen.
Sebagai perlawanan.
Sebagai tempat untuk menjadi aneh.
Sebagai ruang untuk membuat sesuatu yang bahkan belum punya nama.
Lalu Internet Datang dan Mengacaukan Semuanya
Masalahnya sekarang adalah musik underground tidak selalu underground.
Satu lagu bisa direkam di kamar tidur dan tiba-tiba memiliki jutaan stream.
Satu genre yang awalnya dianggap terlalu aneh bisa berubah menjadi tren.
Satu komunitas kecil bisa menghasilkan artis yang kemudian bermain di festival besar.
Dan ketika itu terjadi, pertanyaan lama muncul kembali:
Apakah mereka masih underground?
Mungkin pertanyaan tersebut sudah tidak terlalu berguna.
Contohnya adalah perkembangan hipdut—percampuran hip-hop dan dangdut—yang pada 2025 bergerak dari eksperimen menuju arus utama, dengan nama-nama seperti Tenxi, Naykilla dan Jemsii dari kolektif AntiNRML memainkan peran besar dalam popularitasnya.
“Garam & Madu” bahkan menjadi contoh ekstrem tentang betapa cepatnya sesuatu yang awalnya terasa seperti suara dari pinggir bisa masuk ke pusat perhatian. AntiNRML menyebut lagu tersebut mencapai lebih dari 100 juta stream di berbagai platform setelah dirilis pada akhir 2024 dan awal 2025.
Begitu sebuah lagu mencapai angka seperti itu, sulit menyebutnya underground.
Tapi bukan berarti asal-usulnya hilang.
Mungkin justru di situlah cerita sebenarnya.
Musik tidak harus tetap kecil agar tetap berarti.
Masalah dengan Menjadi Besar
Menjadi besar tentu menyenangkan.
Lebih banyak uang.
Lebih banyak penonton.
Tur yang lebih besar.
Produksi yang lebih bagus.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, bisa membayar semua orang yang selama ini bekerja secara gratis.
Tapi kesuksesan juga membawa pertanyaan baru.
Apa yang terjadi ketika musik yang awalnya dibuat untuk 50 orang sekarang harus dimainkan untuk 10.000 orang?
Apakah suaranya harus berubah?
Apakah liriknya harus lebih aman?
Apakah artis harus membuat konten setiap hari?
Apakah mereka harus mengejar algoritma?
Apakah sebuah lagu masih bisa dibuat karena memang ingin dibuat, atau sekarang harus dibuat karena “berpotensi viral”?
Ini adalah masalah yang dihadapi hampir semua musisi modern.
Bahkan “independen” sendiri sekarang tidak selalu berarti bebas.
Seorang musisi mungkin tidak berada di bawah label besar, tetapi tetap berada di bawah tekanan streaming, algoritma, angka engagement, TikTok, playlist editorial, dan tuntutan untuk terus menghasilkan konten.
Industri musik mungkin sudah tidak memiliki satu penjaga pintu.
Sekarang pintunya ada di mana-mana.
Tapi Mereka Tetap Membuat Musik
Dan mungkin itu bagian paling penting.
Di tengah semua pembicaraan tentang algoritma, monetisasi, branding, personal image dan strategi karier, masih ada orang-orang yang membuat musik karena mereka punya sesuatu yang ingin dikatakan.
Mereka membuat lagu di kamar.
Mereka latihan di garasi.
Mereka membawa alat sendiri.
Mereka membuat poster sendiri.
Mereka menjual kaus setelah pertunjukan.
Mereka patungan menyewa tempat.
Mereka mengirim kaset ke kota lain.
Mereka membuat label karena tidak ada label yang mau merilis musik mereka.
Dan ketika pertunjukan selesai, mereka mungkin kembali ke pekerjaan normal pada Senin pagi.
Bukan karena musik tidak penting.
Justru karena hidup mereka tidak bisa dipisahkan dari musik.
Musik adalah bagian dari hidup mereka, bukan seluruh hidup mereka.
Jadi, Siapa yang Sebenarnya Membuat Masa Depan Musik Indonesia?
Mungkin bukan hanya artis yang paling banyak stream.
Mungkin juga bukan orang yang paling sering muncul di festival.
Mungkin jawabannya adalah orang-orang yang sekarang sedang membuat sesuatu di ruangan kecil yang belum diketahui siapa-siapa.
Karena hampir setiap gerakan musik besar pernah terlihat kecil pada awalnya.
Punk pernah dianggap terlalu berisik.
Hip-hop pernah dianggap musik jalanan.
Elektronik pernah dianggap aneh.
Noise terdengar seperti orang merusak amplifier.
Dan sekarang semuanya punya tempat dalam sejarah musik.
Indonesia sedang mengalami hal yang sama.
Di balik industri yang semakin besar, ada ratusan scene kecil yang bergerak ke arah masing-masing.
Ada yang ingin menjadi besar.
Ada yang tidak peduli.
Ada yang ingin mengubah genre.
Ada yang ingin menghancurkannya.
Ada yang hanya ingin membuat lagu bagus bersama teman-temannya.
Semuanya valid.
Karena mungkin masa depan musik Indonesia tidak akan datang dari satu genre, satu kota, atau satu bintang besar.
Mungkin masa depan itu akan datang dari ribuan orang yang tidak saling mengenal, tetapi semuanya melakukan hal yang sama:
Membuat suara mereka sendiri.
Dan kemudian, pelan-pelan, dunia mulai mendengarkan.