Arsitektur memberikan sesuatu yang sangat menyenangkan bagi fotografer: objeknya tidak akan pergi ke mana-mana.
Bangunan tidak berkedip. Tidak bosan. Tidak pernah mengeluh meskipun Anda sudah mengambil 47 foto dari pintu masuk yang sama. Bangunan hanya berdiri di sana, menunggu Anda menemukan sudut yang tepat.
Namun, memotret arsitektur dengan baik ternyata jauh lebih sulit daripada kelihatannya.
Sebuah bangunan yang terlihat spektakuler secara langsung bisa menghasilkan foto yang biasa saja. Garis-garis yang seharusnya lurus menjadi miring, jendela menghilang dalam bayangan, langit terlihat pucat, dan proporsi indah yang Anda lihat dengan mata sendiri entah bagaimana menghilang begitu foto masuk ke kamera.
Fotografi arsitektur yang baik adalah soal memecahkan masalah-masalah tersebut.
Fotografi arsitektur menggabungkan fotografi, desain, geometri, cahaya, komposisi, dan sedikit kerja detektif. Anda bukan sekadar mendokumentasikan sebuah bangunan. Anda sedang menentukan bagaimana bangunan tersebut seharusnya dilihat.
Baik Anda memotret gedung pencakar langit, bangunan bersejarah, rumah, jembatan, interior, maupun seluruh kawasan kota, teknik-teknik berikut akan membantu Anda menghasilkan foto arsitektur yang jauh lebih kuat.
1. Mulailah dengan Mengamati Bangunannya
Kesalahan terbesar fotografer pemula adalah terlalu cepat mengangkat kamera.
Sebaliknya, luangkan beberapa menit untuk berjalan mengelilingi bangunan.
Lihat dari depan, samping, sudut, dan jika memungkinkan dari belakang. Mendekatlah. Menjauhlah. Lihat ke atas. Lihat ke bawah. Perhatikan bagaimana cahaya jatuh pada fasad bangunan.
Anda sedang mencari tiga hal:
- Bentuk
- Cahaya
- Perspektif
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apa yang menarik dari bangunan ini?
Mungkin simetrinya.
Mungkin bentuk atapnya yang tidak biasa.
Mungkin pola jendelanya yang berulang.
Mungkin kontras antara bangunan lama dan baru.
Atau mungkin hanya cara sinar matahari menyinari fasadnya.
Setelah menemukan apa yang membuat bangunan tersebut menarik, barulah Anda bisa menentukan bagaimana cara terbaik untuk memotretnya.
2. Pilih Waktu yang Tepat
Cahaya bisa mengubah sebuah bangunan secara total.
Struktur yang sama, jika difoto pukul 8 pagi, siang hari, dan saat matahari terbenam, bisa terlihat seperti tiga objek yang berbeda.
Pagi Hari
Cahaya pagi bisa sangat bagus untuk bangunan yang menghadap ke timur.
Cahayanya biasanya lebih lembut daripada sinar matahari siang yang keras, sementara sudut matahari yang rendah dapat menghasilkan bayangan yang menarik.
Siang Hari
Matahari siang bisa menjadi tantangan karena menghasilkan kontras yang sangat kuat.
Namun, jangan otomatis menghindarinya.
Cahaya keras justru bisa sangat bagus untuk arsitektur modern, terutama ketika bangunan memiliki bentuk geometris yang kuat.
Golden Hour
Waktu sesaat sebelum matahari terbenam merupakan salah satu waktu terbaik untuk fotografi arsitektur.
Cahaya yang hangat dapat membuat beton, batu, bata, dan kaca terlihat sangat indah.
Bayangan yang panjang juga dapat menonjolkan tekstur dan bentuk bangunan.
Blue Hour
Jangan langsung memasukkan kamera ke dalam tas setelah matahari terbenam.
Blue hour bisa menghasilkan foto yang luar biasa.
Langit masih mempertahankan warna biru yang dalam sementara lampu-lampu di dalam bangunan mulai menyala.
Efek ini sangat cocok untuk:
- gedung pencakar langit
- hotel
- restoran
- museum
- pusat perbelanjaan
- gedung perkantoran
- rumah
Perpaduan cahaya biru yang dingin dengan cahaya interior yang hangat dapat menghasilkan foto yang sangat dramatis.
3. Perhatikan Posisi Matahari
Sebelum memotret bangunan, cari tahu dari mana arah matahari akan datang.
Hal ini bisa membuat perbedaan yang sangat besar.
Jika matahari tepat berada di belakang bangunan, subjek Anda mungkin berubah menjadi siluet gelap.
Namun, jika matahari menyinari fasad dari samping, Anda bisa mendapatkan bayangan yang indah dan memberikan kedalaman pada bangunan.
Anda tidak harus menggunakan peralatan mahal untuk merencanakan hal ini.
Aplikasi cuaca dan aplikasi posisi matahari dapat membantu Anda mengetahui posisi matahari pada waktu yang berbeda.
Fotografer arsitektur profesional sering kali merencanakan pemotretan berdasarkan pergerakan matahari, bukan sekadar datang ketika mereka sedang memiliki waktu luang.
4. Jaga Agar Garis Vertikal Tetap Lurus
Ini adalah salah satu ciri khas fotografi arsitektur.
Bangunan biasanya dipenuhi garis vertikal.
Ketika Anda memiringkan kamera ke atas, garis-garis tersebut mulai menyatu ke arah atas.
Akibatnya, bangunan bisa terlihat seperti miring atau condong ke belakang.
Terkadang efek ini memang Anda inginkan.
Namun, jika Anda ingin menghasilkan foto arsitektur yang bersih dan profesional, garis vertikal yang menyatu bisa menjadi gangguan.
Solusi paling sederhana adalah menjaga kamera tetap sejajar.
Daripada mengarahkan kamera ke atas, mundurlah lebih jauh dari bangunan dan pertahankan kamera tetap paralel dengan permukaan tanah.
Hal ini tidak selalu mungkin dilakukan di kota yang padat, tetapi lakukan kapan pun Anda bisa.
5. Gunakan Lensa Wide-Angle dengan Hati-Hati
Lensa wide-angle sangat berguna untuk fotografi arsitektur.
Lensa ini memungkinkan Anda memotret bangunan besar ketika Anda tidak memiliki cukup ruang untuk mundur dan memasukkan seluruh bangunan ke dalam frame.
Namun, ada satu masalah.
Lensa wide-angle dapat memperkuat perspektif.
Dinding bisa terlihat melengkung. Jendela di bagian tepi frame bisa terlihat melebar atau memanjang. Bangunan bisa terlihat jauh lebih dramatis daripada bentuk sebenarnya.
Itu tidak selalu buruk.
Fotografi arsitektur bukan tentang menghilangkan semua distorsi.
Fotografi arsitektur adalah tentang mengendalikan distorsi.
Gunakan lensa wide-angle ketika memang diperlukan, tetapi perhatikan baik-baik apa yang terjadi di bagian tepi frame.
6. Jangan Selalu Memotret Seluruh Bangunan
Berikut salah satu trik yang sangat berguna:
Anda tidak harus memotret seluruh bangunan.
Fotografi arsitektur bisa menjadi jauh lebih menarik ketika Anda berkonsentrasi pada detail.
Carilah:
- jendela
- pintu
- tangga
- balkon
- kolom
- struktur atap
- papan nama
- tekstur
- bayangan
- pola
- ornamen
- material yang tidak biasa
Detail arsitektur yang kecil terkadang bisa menghasilkan foto yang lebih bagus daripada keseluruhan bangunan.
Berpikirlah seperti seorang desainer grafis.
Carilah bentuk, garis, dan pengulangan.
7. Manfaatkan Simetri
Arsitektur penuh dengan simetri.
Dan kamera sangat menyukainya.
Bangunan yang simetris dapat menghasilkan komposisi yang sangat kuat jika difoto dari posisi yang tepat.
Cobalah berdiri tepat di depan bangunan.
Bergeraklah sampai sumbu tengah bangunan benar-benar sejajar dengan kamera.
Kemudian periksa bagian tepi frame.
Apakah kedua sisi seimbang?
Apakah garis horizon lurus?
Apakah bangunan berada di tengah dengan tepat?
Penyesuaian kecil dapat menghasilkan perbedaan yang sangat besar.
Simetri sangat cocok untuk:
- gedung pemerintahan
- museum
- bangunan keagamaan
- monumen
- arsitektur klasik
- arsitektur modern minimalis
8. Atau Justru Sengaja Rusak Simetrinya
Simetri bukan kewajiban.
Terkadang foto arsitektur menjadi jauh lebih menarik ketika komposisinya sengaja dibuat tidak seimbang.
Tempatkan bangunan di salah satu sisi frame.
Sisakan ruang kosong di sekelilingnya.
Masukkan lebih banyak langit.
Biarkan bangunan lain menutupi sebagian subjek.
Hasilnya bisa terasa lebih dinamis dan kontemporer.
Yang penting, komposisinya harus terlihat disengaja.
Ada perbedaan besar antara asimetris dengan sengaja dan komposisi yang memang berantakan.
9. Cari Pola yang Berulang
Arsitektur dipenuhi pengulangan.
Ratusan jendela yang identik.
Deretan balkon.
Kolom.
Batu bata.
Ubin.
Balok baja.
Lampu jalan.
Pengulangan menciptakan ritme.
Cobalah memenuhi seluruh frame dengan pola arsitektur yang berulang.
Anda mungkin akan menemukan bahwa bangunan tersebut berubah menjadi sesuatu yang hampir abstrak.
Ini adalah salah satu cara termudah untuk membawa fotografi arsitektur dari sekadar foto bangunan menjadi fotografi yang lebih kreatif.
10. Manfaatkan Refleksi
Bangunan kaca memiliki semacam studio fotografi mereka sendiri.
Carilah pantulan:
- awan
- bangunan di sekitarnya
- pepohonan
- lalu lintas
- manusia
- sinar matahari
- skyline kota
Jangan selalu berusaha menghilangkan refleksi.
Gunakan refleksi tersebut.
Fasad kaca dapat menggabungkan dua pemandangan berbeda menjadi satu foto.
Cobalah mengubah posisi hanya beberapa langkah.
Pergerakan kecil dapat mengubah pantulan secara keseluruhan.
11. Masukkan Manusia ke Dalam Foto
Arsitektur tidak hidup dalam ruang hampa.
Manusia memberikan skala.
Sebuah bangunan raksasa bisa sulit dipahami ukurannya sampai seseorang berjalan melewatinya.
Tiba-tiba penonton memahami seberapa besar bangunan tersebut.
Manusia juga dapat memberikan kehidupan pada ruang yang sebaliknya terasa steril.
Anda dapat memotret orang:
- berjalan melewati fasad
- memasuki pintu
- duduk di tangga
- berdiri di bawah struktur besar
- melintasi plaza
- bergerak di dalam ruangan
Wajah orang tersebut tidak selalu harus terlihat.
Sering kali, sosok manusia yang kecil sudah cukup.
12. Gunakan Manusia sebagai Referensi Skala
Hal ini sangat penting.
Jika Anda memotret arsitektur yang sangat besar, sengaja carilah sosok manusia.
Seseorang yang berdiri di samping dinding beton, monumen, atau gedung pencakar langit yang sangat besar akan langsung menunjukkan skala.
Prinsip yang sama berlaku sebaliknya.
Struktur arsitektur kecil yang difoto tanpa konteks bisa terlihat jauh lebih besar daripada ukuran sebenarnya.
Manusia memberikan titik referensi bagi penonton.
13. Perlakukan Interior Secara Berbeda
Fotografi arsitektur interior menghadirkan serangkaian tantangan baru.
Anda mungkin menghadapi:
- jendela yang sangat terang
- sudut ruangan yang gelap
- pencahayaan buatan
- refleksi
- temperatur warna yang berbeda
- ruang yang terbatas
Tripod menjadi sangat berguna.
Tripod memungkinkan Anda menggunakan shutter speed yang lebih lambat tanpa membuat kamera bergerak.
Hal ini sangat membantu ketika memotret:
- hotel
- restoran
- galeri
- kantor
- rumah
- gereja
- teater
14. Gunakan Tripod
Tripod tidak selalu diperlukan, tetapi sangat berguna untuk fotografi arsitektur yang serius.
Tripod membantu Anda:
- menjaga garis vertikal tetap konsisten
- menyusun komposisi dengan hati-hati
- menggunakan ISO rendah
- menggunakan shutter speed lambat
- memotret saat blue hour
- membuat foto HDR
- mengambil beberapa exposure dari posisi yang sama persis
Yang lebih penting, tripod membuat Anda memperlambat proses.
Daripada sekadar mengarahkan kamera dan menekan shutter, Anda mulai benar-benar menyusun komposisi.
Dan itu saja sudah bisa meningkatkan kualitas foto Anda.
15. Gunakan ISO Rendah
Ketika kamera berada di atas tripod, gunakan ISO rendah jika memungkinkan.
ISO rendah biasanya menghasilkan gambar yang lebih bersih dengan noise digital yang lebih sedikit dan detail yang lebih baik.
Hal ini sangat penting dalam fotografi arsitektur karena bangunan sering memiliki banyak detail kecil.
Tekstur bata, beton, batu, kaca, dan logam semuanya bisa terlihat lebih baik dalam foto yang bersih dan detail.
16. Kendalikan Aperture
Untuk fotografi arsitektur eksterior, Anda biasanya menginginkan depth of field yang cukup besar.
Aperture menengah dapat menjadi titik awal yang baik.
Misalnya, sekitar f/8 hingga f/11 dapat memberikan keseimbangan yang bagus antara ketajaman dan depth of field pada banyak lensa.
Namun, jangan menganggap angka tersebut sebagai aturan mutlak.
Jika Anda sedang memotret detail arsitektur tertentu, aperture lebar mungkin justru merupakan pilihan yang tepat.
Aperture yang benar bergantung pada foto yang ingin Anda hasilkan.
17. Perhatikan Shutter Speed
Jika memotret dengan tangan, pastikan shutter speed cukup cepat untuk mencegah camera shake.
Jika kamera terpasang pada tripod, Anda memiliki jauh lebih banyak kebebasan.
Shutter speed lambat sangat berguna untuk fotografi malam.
Orang yang bergerak dapat berubah menjadi blur.
Mobil dapat berubah menjadi garis cahaya.
Air dapat terlihat halus.
Awan dapat bergerak melewati frame.
Bangunan tetap diam sementara segala sesuatu di sekelilingnya berubah menjadi gerakan.
Kontras ini dapat menghasilkan foto yang luar biasa.
18. Gunakan Format RAW
Jika kamera Anda mendukung format RAW, gunakanlah jika memungkinkan.
File RAW menyimpan lebih banyak informasi gambar dibandingkan JPEG terkompresi, sehingga memberikan fleksibilitas yang lebih besar saat proses editing.
Hal ini sangat berguna untuk arsitektur karena sebuah scene dapat memiliki perbedaan ekstrem antara langit yang terang dan bayangan yang gelap.
RAW memberi Anda lebih banyak ruang untuk mengembalikan detail highlight dan mengangkat detail shadow saat melakukan editing.
19. Cobalah Exposure Bracketing
Foto arsitektur sering memiliki dynamic range yang sangat tinggi.
Bayangkan Anda memotret interior bangunan dengan cahaya matahari terang yang masuk melalui jendela.
Jika Anda mengekspos ruangan dengan benar, jendela mungkin berubah menjadi putih total.
Jika Anda mengekspos jendela dengan benar, ruangan mungkin menjadi hampir hitam.
Salah satu solusinya adalah exposure bracketing.
Ambil beberapa foto dengan tingkat exposure yang berbeda.
Anda kemudian dapat menggabungkannya menjadi gambar high-dynamic-range atau menggunakan bagian dari masing-masing exposure saat editing.
Yang penting adalah menjaga kamera tetap benar-benar diam.
Sekali lagi, inilah alasan tripod sangat berguna.
20. Gunakan Leading Lines
Arsitektur pada dasarnya adalah kumpulan garis raksasa.
Gunakan garis-garis tersebut.
Jalan dapat mengarahkan mata menuju bangunan.
Jalur pejalan kaki dapat mengarah ke pintu masuk.
Pegangan tangga dapat mengarahkan pandangan.
Tangga dapat menciptakan diagonal.
Kolom dapat menciptakan ritme vertikal.
Atap dapat menciptakan garis horizontal yang kuat.
Perhatikan pemandangan dan tanyakan:
Ke mana mata saya pertama kali tertuju?
Kemudian tanyakan:
Ke mana komposisi ini membawa mata saya selanjutnya?
Fotografi arsitektur yang baik sering kali mengarahkan penonton untuk menjelajahi foto.
21. Bereksperimenlah dengan Perspektif
Jangan memotret semuanya dari ketinggian mata.
Cobalah merendahkan posisi kamera.
Sudut rendah dapat membuat bangunan terlihat sangat besar dan mengesankan.
Cobalah memotret dari atas.
Sudut pandang tinggi dapat memperlihatkan hubungan antara bangunan, jalan, dan ruang kota.
Cobalah memotret dari sudut bangunan.
Sudut dapat menciptakan komposisi diagonal yang kuat.
Cobalah memotret melalui struktur lain.
Membingkai subjek melalui lengkungan, pintu, atau jendela dapat memberikan kedalaman.
Posisi kamera adalah salah satu alat kreatif paling kuat yang Anda miliki.
22. Lihat ke Atas
Fotografer menghabiskan waktu yang mengejutkan banyaknya dengan melihat lurus ke depan.
Arsitektur memberikan hadiah kepada mereka yang mau melihat ke atas.
Atap, balkon, jembatan, dan gedung pencakar langit dapat menghasilkan komposisi geometris yang luar biasa ketika dilihat dari bawah.
Cobalah mengarahkan kamera langsung ke atas.
Hasilnya mungkin bahkan tidak terlihat seperti bangunan aslinya.
Tidak masalah.
Anda sedang menciptakan sebuah gambar, bukan membuat dokumentasi teknis arsitektur.
23. Lihat ke Bawah
Hal yang sebaliknya juga sama bergunanya.
Dari balkon, jembatan, rooftop, dan lantai tinggi, arsitektur dapat berubah menjadi sesuatu yang hampir abstrak.
Carilah:
- bentuk jalan yang geometris
- atap bangunan
- halaman
- pola lalu lintas
- bayangan
- struktur berulang
- orang yang bergerak di dalam ruang
Arsitektur kota menjadi subjek yang sama sekali berbeda ketika dilihat dari atas.
24. Fotolah Saat Cuaca Buruk
Jangan langsung membatalkan sesi pemotretan hanya karena cuaca terlihat buruk.
Hujan bisa sangat bagus untuk arsitektur.
Permukaan yang basah memantulkan bangunan dan cahaya.
Awan badai dapat menambah drama.
Kabut dapat menyederhanakan komposisi.
Salju dapat mengubah arsitektur yang sudah dikenal menjadi sesuatu yang baru.
Bahkan langit mendung dapat menghasilkan cahaya yang sangat lembut.
Cuaca bukan selalu musuh.
Terkadang justru merupakan senjata rahasia Anda.
25. Gunakan Bayangan Secara Kreatif
Bayangan sering dianggap sebagai masalah.
Padahal tidak harus begitu.
Bayangan arsitektur dapat menciptakan:
- pola
- kontras
- kedalaman
- pengulangan
- siluet
- bentuk geometris
Kunjungi bangunan yang sama pada waktu berbeda dan Anda akan melihat bahwa bayangannya terus mengubah tampilan arsitektur.
Bangunannya tetap diam.
Tetapi fotonya tidak pernah benar-benar sama.
26. Perhatikan Langit
Langit dapat membuat atau menghancurkan sebuah foto arsitektur.
Langit yang sepenuhnya putih dapat membuat foto yang sebenarnya bagus terlihat datar.
Langit yang dramatis dapat mengubah bangunan biasa menjadi sesuatu yang spektakuler.
Namun, jangan sepenuhnya bergantung pada cuaca dramatis.
Bangunan minimalis dengan langit yang bersih juga dapat menghasilkan foto yang sangat kuat.
Pikirkan apa yang dilakukan langit terhadap komposisi Anda.
Apakah langit menambahkan sesuatu?
Atau hanya memenuhi ruang?
27. Cobalah Hitam Putih
Arsitektur sering terlihat sangat bagus dalam hitam putih.
Menghilangkan warna membuat perhatian penonton lebih tertuju pada:
- bentuk
- tekstur
- kontras
- cahaya
- bayangan
- geometri
Beton, baja, dan batu khususnya bisa terlihat sangat kuat dalam hitam putih.
Namun, jangan mengubah setiap foto menjadi hitam putih.
Tanyakan apakah menghilangkan warna benar-benar membuat foto tersebut lebih baik.
Jika warna merupakan bagian penting dari identitas bangunan, pertahankan warna tersebut.
28. Lakukan Editing Secukupnya
Fotografi arsitektur bisa mendapatkan manfaat besar dari editing.
Tetapi ada bahayanya.
Sangat mudah mengubah foto bangunan menjadi bencana HDR yang aneh dan terlalu diproses.
Mulailah dengan hal-hal dasar:
- exposure
- white balance
- contrast
- highlights
- shadows
- clarity
- koreksi lensa
- perspektif
- cropping
Kemudian berhenti.
Tujuan Anda bukan menunjukkan kepada dunia bahwa Anda mengetahui setiap slider yang tersedia dalam software editing.
Tujuan Anda adalah membuat foto menjadi lebih baik.
29. Koreksi Perspektif Saat Editing
Bahkan dengan teknik yang baik, foto arsitektur tetap bisa memiliki distorsi perspektif.
Software editing modern dapat membantu memperbaikinya.
Carilah alat yang memungkinkan Anda menyesuaikan:
- perspektif vertikal
- perspektif horizontal
- distorsi lensa
- geometri
- cropping
Namun, jangan melakukan koreksi berlebihan.
Foto tidak selalu membutuhkan garis yang benar-benar sejajar.
Terkadang sedikit perspektif justru membuat foto terasa lebih alami.
30. Hilangkan Gangguan
Sebelum mengambil foto, perhatikan baik-baik seluruh frame.
Apakah ada:
- tempat sampah?
- mobil yang parkir?
- papan tanda?
- tiang?
- kabel?
- orang yang mengganggu?
- pembatas konstruksi?
Terkadang Anda cukup mengubah posisi.
Pada situasi lain, Anda mungkin perlu menghilangkan gangguan tersebut saat editing.
Namun, mencegah gangguan biasanya lebih baik daripada memperbaikinya di Photoshop.
31. Jangan Lupakan Foreground
Fotografer sering terlalu fokus pada bangunan sampai lupa pada apa yang ada di depannya.
Foreground dapat memberikan kedalaman.
Trotoar, taman, kolam, jalan, atau plaza dapat menciptakan jalur visual menuju bangunan.
Cobalah menyusun foto dengan:
foreground → bangunan → background
Susunan berlapis seperti ini membuat foto terasa lebih tiga dimensi.
32. Ceritakan Sebuah Kisah
Foto arsitektur yang hebat tidak selalu menunjukkan bangunan secara terpisah.
Foto tersebut dapat menceritakan sesuatu tentang hubungan antara arsitektur dan lingkungan di sekitarnya.
Gedung pencakar langit modern yang dikelilingi bangunan bersejarah menceritakan satu kisah.
Pasar yang ramai di bawah sebuah menara baru menceritakan kisah yang lain.
Bangunan terbengkalai yang mulai ditumbuhi tanaman menceritakan kisah yang berbeda lagi.
Berpikirlah lebih jauh daripada:
“Ini adalah sebuah bangunan.”
Tanyakan:
“Apa yang terjadi antara bangunan ini dan dunia di sekitarnya?”
Pertanyaan tersebut dapat menghasilkan foto yang jauh lebih kuat.
33. Fotolah Bangunan yang Sama Lebih dari Sekali
Salah satu latihan terbaik untuk meningkatkan kemampuan fotografi arsitektur adalah memotret bangunan yang sama berkali-kali.
Cobalah:
- matahari terbit
- siang hari
- matahari terbenam
- blue hour
- malam hari
- hujan
- cuaca mendung
Kemudian bandingkan hasilnya.
Anda akan segera menyadari betapa dramatisnya pengaruh cahaya dan kondisi lingkungan terhadap arsitektur.
Ini juga merupakan cara yang sangat baik untuk mengembangkan gaya fotografi Anda sendiri.
34. Lakukan Riset Sebelum Memotret
Jika Anda akan memotret bangunan penting, pelajari sedikit tentang bangunan tersebut terlebih dahulu.
Cari tahu:
- kapan bangunan itu dibangun
- siapa arsiteknya
- mengapa bangunan itu dibuat
- material apa yang digunakan
- apa yang membuatnya penting secara arsitektural
- bagaimana bangunan tersebut biasanya difoto
Anda tidak perlu menulis esai sejarah arsitektur.
Pengetahuan sederhana tersebut membantu Anda memahami subjek.
Dan memahami subjek akan membuat Anda lebih mudah menemukan foto yang menarik.
35. Memotretlah dengan Tujuan
Sebelum menekan shutter, tanyakan kepada diri sendiri:
Apa yang sebenarnya ingin saya tunjukkan?
Mungkin Anda ingin menunjukkan skala.
Mungkin Anda ingin menunjukkan simetri.
Mungkin Anda ingin menunjukkan tekstur.
Mungkin Anda ingin menunjukkan hubungan antara bangunan lama dan baru.
Mungkin Anda ingin menunjukkan bagaimana manusia berinteraksi dengan bangunan.
Mungkin Anda hanya ingin membuat sebuah komposisi abstrak yang indah.
Mengetahui tujuan Anda akan mempermudah menentukan di mana harus berdiri, lensa apa yang digunakan, dan bagaimana membingkai foto.
36. Checklist Fotografi Arsitektur Sederhana
Sebelum berangkat memotret, pastikan Anda membawa:
- Kamera
- Lensa wide-angle
- Lensa standar atau short telephoto
- Tripod
- Baterai cadangan
- Kartu memori
- Kain pembersih lensa
- Remote shutter release atau gunakan timer
- Filter polarizer jika diperlukan
- Filter ND jika ingin bereksperimen dengan long exposure
Anda tidak membutuhkan semua peralatan ini untuk mulai belajar.
Bahkan, Anda bisa menghasilkan fotografi arsitektur yang sangat bagus hanya dengan smartphone modern.
Peralatan memang membantu.
Tetapi fotografer jauh lebih penting.
37. Smartphone Ternyata Sangat Bagus untuk Arsitektur
Smartphone modern sebenarnya sangat cocok untuk fotografi arsitektur.
Smartphone:
- kecil
- mudah digunakan
- memiliki kamera wide-angle
- memiliki kemampuan computational photography yang kuat
- mudah dibawa ke mana-mana
Smartphone juga membuat eksperimen menjadi sangat mudah.
Cobalah memotret bangunan yang sama menggunakan kamera standar, wide-angle, dan telephoto di smartphone Anda.
Bandingkan perspektifnya.
Anda akan mulai memahami bagaimana focal length mengubah tampilan arsitektur.
Namun, berhati-hatilah dengan digital zoom karena dapat menurunkan kualitas gambar.
38. Latihan Fotografi Arsitektur untuk Pemula
Berikut latihan sederhana yang akan mengajarkan Anda lebih banyak daripada membaca 20 artikel fotografi tambahan.
Pilih satu bangunan.
Luangkan waktu 30 menit untuk memotretnya.
Tetapi buat beberapa aturan:
Foto 1: Seluruh bangunan.
Foto 2: Komposisi simetris.
Foto 3: Detail arsitektur dari jarak dekat.
Foto 4: Foto dari posisi rendah.
Foto 5: Foto dari atas.
Foto 6: Foto menggunakan refleksi.
Foto 7: Foto yang memasukkan seseorang sebagai pembanding skala.
Foto 8: Foto yang berfokus pada bayangan.
Foto 9: Komposisi abstrak.
Foto 10: Foto favorit Anda dari bangunan tersebut.
Kemudian bandingkan semuanya.
Mana yang paling baik menyampaikan karakter bangunan?
Mana yang paling menarik secara visual?
Mana yang benar-benar ingin Anda cetak?
Latihan ini akan mengajarkan Anda untuk berhenti berpikir bahwa sebuah bangunan hanya memiliki satu foto.
Satu bangunan dapat mengandung puluhan—bahkan ratusan—kemungkinan foto.
39. Bangun Gaya yang Konsisten
Semakin sering Anda memotret arsitektur, semakin Anda akan melihat pola dalam karya Anda sendiri.
Mungkin Anda menyukai:
- langit yang dramatis
- komposisi minimalis
- hitam putih
- bangunan modern yang penuh warna
- arsitektur brutalist
- bangunan bersejarah
- fotografi malam
- detail arsitektur abstrak
- manusia yang berinteraksi dengan arsitektur
Perhatikan kecenderungan tersebut.
Gaya fotografi bukan sesuatu yang harus Anda ciptakan secara paksa.
Sering kali gaya tersebut muncul secara alami dari subjek dan komposisi yang terus Anda pilih.
40. Berpikirlah Seperti Arsitek
Mungkin trik yang paling berguna adalah mulai melihat arsitektur seperti seorang arsitek.
Perhatikan:
Proporsi.
Seberapa besar satu elemen dibandingkan dengan elemen lainnya?
Ritme.
Pola apa yang berulang?
Hierarki.
Apa elemen yang paling penting?
Keseimbangan.
Apakah komposisi terasa stabil atau memang sengaja dibuat tidak stabil?
Material.
Apa perbedaan karakter beton, kaca, bata, kayu, dan baja?
Cahaya.
Bagaimana cahaya memperlihatkan bentuk bangunan?
Ketika Anda mulai melihat arsitektur dengan cara seperti ini, Anda berhenti sekadar memotret bangunan.
Anda mulai memotret desain.
Foto Terakhir
Pada akhirnya, fotografi arsitektur adalah tentang kemampuan mengamati.
Anda tidak membutuhkan kamera termahal di dunia. Anda tidak membutuhkan studio. Anda bahkan tidak membutuhkan cuaca yang sempurna.
Anda hanya perlu memperlambat langkah dan melihat.
Lihat cahayanya.
Lihat garisnya.
Lihat bayangannya.
Lihat detailnya.
Lihat apa yang diabaikan orang lain.
Kemudian bergeraklah.
Berjalan sepuluh langkah ke kiri. Mundur. Mendekat. Turunkan posisi kamera. Lihat ke atas. Tunggu seseorang masuk ke dalam frame. Datanglah kembali setelah matahari terbenam.
Bangunannya tidak berubah.
Tetapi foto Anda berubah.
Dan itulah trik sebenarnya dalam fotografi arsitektur: foto terbaik hampir selalu berada di tempat yang tidak Anda duga ketika pertama kali melihat bangunan tersebut.